Allah

Allah
Mari selalu dzikir kepada Allah setiap waktu

Senin, 09 Agustus 2010

KEMASAN DAKWAH DAN IBADAH

Sebagian pemuda di zaman ini sibuk berpolitik, sebagian lagi mengidolakan tokoh-tokoh ekstrimis/ghuluw. Jika mereka bertemu dengan orang yang merayakan maulidur Rasul, maka mereka sendiri berkata, “Jangan menambah-nambahi! Sholat berjama’ah saja masih jarang, baca Al-Qur’an saja masih jarang, sudah mengerjakan hal-hal lain, sudah baca yang lain.”

Saya kurang mengerti bagaimana hukum berda’wah dengan cara mendirikan partai politik dan ikut meramaikan sistem demokrasi. Namun ketahuilah, berda’wah dengan mengadakan pembacaan maulid dan ceramah agama setiap hari seperti yang dilakukan oleh Majelis Rasulullah adalah baik. Mereka yang jarang ke Masjid jadi ke Masjid. Mereka yang jarang baca Al-Qur’an jadi mendengarkan ayat Al-Qur’an. Mereka yang jarang bersholawat jadi bersholawat. Mereka yang jarang mempelajari hadits jadi membaca dan mempelajari hadits. Mereka yang jarang menangis di hadapan Allah jadi meneteskan air mata dalam munajat. Hari demi hari, hati mereka terlembutkan.

Terkadang, kita perlu mengemas da’wah dengan kemasan yang menarik. Kita juga perlu mengajak ummat melakukan amalan-amalan sunnah seperti dzikir, shalawat dan lainnya dengan cara yang menarik dan praktis. Bukan sekedar memberikan mereka pengetahuan atas keutamaan suatu amalan, tetapi juga langsung mengamalkannya.

Sungguh aneh mereka yang menganggap bid’ah atas pembacaan rawi maulid, rathiban, yasinan, tahlilan, dan dzikir berjama’ah. Padahal mereka sendiri ikut dalam takbiran di Masjid, ikut dalam pembacaan Al-Ma’tsurot li Syaikh Hasan Al-Banna secara berkelompok, dan merayakan milad partai.

Seperti diajarkan oleh Syaikh ibnu ‘Atho-illah bahwa salah satu hikmah adanya berbagai macam ibadah sunnah adalah Allah Mahatahu bahwa manusia adalah pembosan, jika manusia itu bosan beribadah sunnah dengan cara yang satu, mereka boleh memilih ibadah sunnah yang lain, atau mereka mengemas beberapa ibadah sunnah dalam satu acara. Rathib dan Hizib tidak lain merupakan kumpulan dzikir atau pun ayat-ayat Al-Qur’an, atau shalawat dan istighfar yang memang diajarkan oleh Rasul untuk membacanya dan mewiridkannya.

Manusia bukanlah malaikat yang dapat beribadah hanya dengan rukuk saja, sujud saja, tasbih saja, dsb. Manusia perlu variasi. Sholat adalah salah satu contoh ibadah yang menggabungkan segala macam ibadah, kecuali sedekah. Maka banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan sholat dan menginfaqkan harta di jalan Allah secara bergandengan.

Dalam sholat ada puasa, bahkan puasa dari berbicara dengan makhluq. Dalam sholat ada syahadat, sholawat, istighfar, do’a, tasbih, dsb. Dalam sholat ada penjagaan atas aurat dan kethahiran. Orang yang sholat mestilah menghadap Ka’bah. Jika dilihat dari satelit, orang-orang yang sholat seperti mengitari Ka’bah. Tubuh mereka disini, tetapi ruh mereka berthawaf mengelilingi Ka’bah.

Acara maulidur Rasul, yasinan, dan tahlilan merupakan penggabungan dari beberapa amalan sunnah. Dalam yasinan, masyarakat yang biasanya menonton tv setelah shalat Maghrib, mereka diajak untuk membaca surat Yasin yang pahalanya sama dengan membaca keseluruhan Al-Quran. Suatu amalan yang baik yang dilakukan dengan cara yang baik. Jika membaca surat Yasin secara berjama’ah ini bid’ah, maka membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang ada dalam Al-Ma’tsurot Al-Banna secara berjama’ah pun bid’ah. Jika mengirim pahala kepada mayyit dikatakan bid’ah yang sesat, lalu bagaimana dengan Rasul yang membolehkan menghadiahkan pahala kepada mayyit?

Usaha-usaha untuk membid’ahkan amalan-amalan ini hanyalah terbit dari mereka yang kurang paham syari’ah atau membenci syari’ah dengan kedok ‘pemurnian’, ‘pembaharu’, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar